Meaningful

Meaningful

Toy Story 4 (2019) adalah sebuah film animasi produksi Disney Pixar, installment ke-4 dari seri Toy Story dan sekuel dari Toy Story 3 (2010). Membawa pelajaran tentang kehidupan, bahwa setiap akhir adalah awal yang baru, film yang disutradarai oleh Josh Cooley ini menceritakan tentang Woody dan teman-temannya yang berada pada dunia baru bersama dengan pemilik barunya yang bernama Bonnie dan juga beberapa mainan baru. Mengetahui adanya kelanjutan dari Toy Story 3 (2010), banyak orang yang berpendapat bahwa seri ke-4 ini tidak seharusnya ada, karena ending dari seri ke-3 sudah sangat bagus. Namun terlepas dari pendapat sebagian besar orang, ternyata seri ke-4 ini justru memiliki rating tertinggi di antara seri lainnya. Salah satu hal yang menyebabkan seri ini menjadi favorit adalah adanya pesan moral yang sangat berbeda dibandingkan seri-seri pendahulunya.

Melanjutkan cerita tentang kehidupan mainan, suatu hari Bonnie menciptakan sebuah mainan baru berbentuk garpu yang berasal dari sampah. Mainan yang kemudian diberi nama Forky tersebut seketika menjadi mainan favorit Bonnie yang dibawanya ke mana pun dia pergi. Namun di balik kenyataan itu, ternyata Forky mengalami krisis eksistensial yang menyebabkannya tidak tahu sama sekali tentang tujuan hidupnya. Satu-satunya hal yang dia tahu adalah dia berasal dari sampah dan dia akan kembali pada tumpukan sampah. Berkali-kali dia berusaha menjauh dari pandangan Bonnie untuk kembali ke tumpukan sampah, berkali-kali itu juga Woody terus meyakinkan dirinya bahwa kini dirinya bukan lagi sampah, tapi sebuah mainan.

Karena sifat keras kepalanya, Forky terus memungkiri kenyataan yang ada dan tetap menganggap bahwa dirinya adalah bagian dari sampah, hingga pada titik tertentu Woody menyadarkan dirinya bahwa dia adalah mainan yang sangat beruntung karena memiliki kesempatan yang besar untuk menjadi bagian penting dari memori masa kecil Bonnie dan melihat tumbuh kembang Bonnie dari waktu ke waktu hingga menjadi dewasa. Melalui rangkain peristiwa yang panjang, akhirnya Woody berhasil membuat Forky memperoleh pengertian baru tentang tujuan hidupnya saat ini yaitu menjadi mainan seorang anak.

Self Identity
Cerita ini memberikan suatu pesan moral yang sangat bermakna, yaitu self identity. Seperti halnya mainan memiliki tujuan untuk membahagiakan pemiliknya, manusia yang juga memiliki tujuan hidup, yang berbeda-beda antara yang satu dan yang lainnya. Namun di antara aneka ragamnya tujuan hidup, setiap iman mempunyai tujuan yang sama yaitu keselamatan jiwa.

Roma 3:23-24 (TB)
23 Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah,
24 dan oleh kasih karunia telah dibenarkan dengan cuma-cuma karena penebusan dalam Kristus Yesus.

1 Petrus 1:8-9 (TB)
8 Sekalipun kamu belum pernah melihat Dia, namun kamu mengasihi-Nya. Kamu percaya kepada Dia, sekalipun kamu sekarang tidak melihat-Nya. Kamu bergembira karena sukacita yang mulia dan yang tidak terkatakan,
9 karena kamu telah mencapai tujuan imanmu, yaitu keselamatan jiwamu.

Kisah Forky mengingatkan kita bahwa di tengah proses penggenapannya tujuan hidup, kita sering kali terjebak dalam pahitnya latar belakang kita dan gelapnya masa lalu kita. Karakter Forky merepresentasikan pribadi yang tidak menerima tujuan hidup yang telah ditetapkan baginya, pribadi yang selalu menganggap dirinya tidak layak, pribadi yang ingin kembali kepada kelamnya masa lalu dan dosa-dosa yang lama.

Filipi 3:13-14 (TB)
13 Saudara-saudara, aku sendiri tidak menganggap, bahwa aku telah menangkapnya, tetapi ini yang kulakukan: aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku,
14 dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus.

Sesering apapun kita tertuduh dengan perasaan tidak layak, sesering itu pula Tuhan mengingatkan bahwa kita adalah pribadi yang telah ditebus. Hal pertama yang harus kita lakukan untuk mengalami kemenangan atas perasaan tertuduh adalah dengan menerima bahwa Tuhan mengasihi kita apa adanya. Seburuk apapun masa lalu kita, kita tetap dapat bergerak maju jika kita mampu menerima kenyataan yang ada dan mampu melihat adanya pengharapan akan masa depan.

Hidden Meaning
Jika kita melihat awal mula munculnya pesan moral penting ini, maka kita akan mendapati bahwa pesan ini berasal dari sebuah film kartun. Jika kita menganggap sebuah film kartun hanya untuk anak-anak saja, maka makna dari film tersebut akan menjadi sesempit pemikiran kita dan tidak akan memiliki arti lebih dari sebuah film kartun biasa. Hal ini akan menyebabkan kita kehilangan kesempatan untuk memperoleh pesan penting yang telah disediakan sutradara.

Matius 25:23 (TB)
Maka kata tuannya itu kepadanya: Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia, engkau telah setia memikul tanggung jawab dalam perkara yang kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu.

Demikian juga halnya dengan kejadian-kejadian di dalam hidup kita yang sering kali terluput dari perhatian kita. Jika kita selalu menganggap remeh perkara-perkara kecil di dalam hidup, kita akan kehilangan hidden meaning yang Tuhan sediakan karena batasan-batasan yang kita ciptakan sendiri. Ketika kita tidak setia dalam perkara kecil, kita akan kehilangan kesempatan memperoleh tanggung jawab dalam perkara besar. Ketika kita beranggapan bahwa tidak ada satu pun hal baik pada situasi saat ini, kita akan mendapati masalah yang ada di hadapan kita semakin membelenggu hidup kita.

Roma 8:28 (TB)
Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.

Ada beberapa hal di dalam hidup kita yang tidak mampu kita ubah, tapi pada saat itu kita masih mempunyai pilihan untuk mengubah sudut pandang kita. Dengan menerima kenyataan yang ada dan mengubah sudut pandang, kita akan mendapati bahwa Tuhan turut bekerja dan selalu mempunyai tujuan yang baik dalam setiap kejadian yang kita alami.

Change the way you look at things and the things you look at change.

Unexpected

Unexpected
By : Florencia Halim
Connect Group P-230
Tuesday, 18 Jun 2019

Ketika menjalani kehidupan, sering kali kita mengalami kejadian yang unexpected, yaitu ketika mendapati realita yang ada di hadapan kita sangat jauh dari ekspektasi kita. Kejadian yang tidak terduga tersebut bisa saja berupa kejadian yang sangat menggembirakan atau justru sangat menyedihkan. Ketika mengalami kejadian yang sangat menggembirakan, tentunya kita akan sangat bersyukur kepada Tuhan dan kita menjadi semakin semangat dalam menjalani kehidupan. Tapi bagaimana ketika hal yang sangat menyedihkan terjadi? Apakah kita akan kecewa kepada Tuhan?

Kejadian unexpected yang sangat buruk memungkinkan kita berada di dalam keadaan yang deep painful dan tidak dapat move forward. Ketika menghadapi situasi yang serba tidak pasti, kita mempunyai dua pilihan, yaitu :
1. Stop and stuck
2. Accept the truth and move forward

Jika kita stop and stuck, kita akan terus-menerus meratapi realita yang ada dan terbenam di dalam kesedihan yang sama, hingga akhirnya kita berada di titik terbawah yang mungkin menyebabkan kita menyerah pada situasi yang ada. Kondisi ini tentunya membuat kita tidak mampu menerima realita dan tidak mampu bergerak maju.

Jika kita memilih untuk accept the truth, kita akan masuk ke dalam suatu intimacy dengan Tuhan yang menyadarkan kita bahwa ternyata kita memiliki iman yang jauh lebih besar dari yang sebelumnya pernah kita sadari. Daripada kita membiarkan diri kita dihantui oleh rasa takut dan dibutakan oleh rasa sakit, lebih baik kita tetap percaya kepada Tuhan walaupun kita tahu hal buruk yang kita takutkan itu mungkin akan benar-benar terjadi.

Ketika mendapati bahwa dari waktu ke waktu realita yang ada semakin buruk dan semakin jauh dari yang kita bayangkan, tidak ada salahnya kita bersiap untuk segala kemungkinan terburuk dengan tetap disertai doa dan pengharapan di dalam Tuhan selagi ada kesempatan. Dengan terus berdoa dan berpengharapan, kita menghadapi situasi yang sulit tidak hanya dengan defense tapi juga attack. Namun sekalipun Tuhan tidak menjawab doa kita sampai akhir, kita harus senantiasa menyadari bahwa Tuhan memiliki rencana yang terbaik di dalam hidup kita. Terlepas dari apapun rencana yang kita punya, Tuhan lebih berdaulat atas seluruh kehidupan kita. God is always in control.

Ketika kita mampu move forward selagi doa kita belum juga dijawab, kita akan mendapati diri kita lebih kuat daripada pribadi kita di masa lalu. Bahkan ketika masa-masa sulit itu berakhir, kita akan menyadari bahwa dengan mengandalkan Tuhan kita mampu menghadapi banyak hal yang sebelumnya tidak pernah kita duga bahwa kita mampu.

Kejadian 17:15-17 (TB)
15 Selanjutnya Allah berfirman kepada Abraham: “Tentang isterimu Sarai, janganlah engkau menyebut dia lagi Sarai, tetapi Sara, itulah namanya.
16 Aku akan memberkatinya, dan dari padanya juga Aku akan memberikan kepadamu seorang anak laki-laki, bahkan Aku akan memberkatinya, sehingga ia menjadi ibu bangsa-bangsa; raja-raja bangsa-bangsa akan lahir dari padanya.”
17 Lalu tertunduklah Abraham dan tertawa serta berkata dalam hatinya: “Mungkinkah bagi seorang yang berumur seratus tahun dilahirkan seorang anak dan mungkinkah Sara, yang telah berumur sembilan puluh tahun itu melahirkan seorang anak?”

Kejadian 20:17 (TB)
17 Lalu Abraham berdoa kepada Allah, dan Allah menyembuhkan Abimelekh dan isterinya dan budak-budaknya perempuan, sehingga mereka melahirkan anak.
18 Sebab tadinya TUHAN telah menutup kandungan setiap perempuan di istana Abimelekh karena Sara, isteri Abraham itu.

Kejadian 21:1 (TB)
TUHAN memperhatikan Sara, seperti yang difirmankan-Nya, dan TUHAN melakukan kepada Sara seperti yang dijanjikan-Nya.

Abraham adalah salah satu tokoh yang pernah goyah di dalam penggenapan janji Tuhan di dalam hidupnya. Sebelum janji Tuhan digenapi di dalam hidupnya, Abraham sempat meragukannya ketika melihat realita yang ada di hadapannya sangat mustahil baginya untuk memperoleh keturunan. Namun terlepas dari keraguannya, kisah Abraham mengajarkan kepada kita bahwa hal yang dapat membuat kita mampu move forward adalah dengan tidak terlalu berfokus kepada masalah kita sendiri, tetapi turut mendoakan orang lain di sekitar kita. Sebelum akhirnya Tuhan menggenapi janji-Nya di dalam hidup Abraham, hal yang dilakukan Abraham adalah mendoakan Abimelekh dan istrinya agar memperoleh keturunan. Ketika kita turut membantu dan mendoakan orang lain, tanpa kita sadari kita sudah selangkah lebih dekat dengan penggenapan janji Tuhan.

Matius 26:39 (TB)
Maka Ia maju sedikit, lalu sujud dan berdoa, kata-Nya: “Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki.”

Iman dalam ke-Kristen-an tidak melulu tentang dijawabnya doa-doa kita oleh Tuhan, tetapi juga tentang stay strong walaupun harapan kita tidak dikabulkan. Ketika doa kita tidak kunjung dijawab, tetaplah bersyukur karena setidaknya kita masih memiliki Tuhan. Tidak ada gunanya kita memiliki seluruh hal yang kita harapkan jika kemudian kita kehilangan Tuhan. Segala sesuatu yang bersifat duniawi tidak akan kita bawa mati. Iman yang dikehendaki oleh Tuhan untuk kita miliki adalah iman yang mempercayakan hidup kita sepenuhnya pada kehendak Tuhan saja.

If we win, we praise Him. And if we lose, we praise Him. Either way we honor Him with our actions and our attitudes.
(Grant Taylor, Facing The Giant – 2006)

Born Again

Born Again
By : James Andi Wijaya
Connect Group P-230
Tuesday, 21 May 2019

“Born again” artinya lahir baru, terlahir kembali secara rohani atau bertobat dari cara hidup yang lama untuk menjadi pribadi baru yang berkenan di hadapan Tuhan.

Jika kita mempunyai pengetahuan yang salah tentang makanan yang kita konsumsi, maka kita bisa over/underweight.
Jika kita mempunyai pemahaman yang salah tentang fitness, maka kita bisa cedera ketika work out.
Jika kita mempunyai pengertian yang salah tentang lahir baru, maka kita bisa saja tidak masuk ke dalam Kerajaan Allah.
Tentunya kita tidak mau mempunyai pengertian yang salah tentang lahir baru, karena konsekuensinya terlalu mahal, it may cost your eternity.

Bacaan : Yohanes 3:1-16
“Percakapan dengan Nikodemus”

Ketika berada di Yerusalem untuk merayakan Paskah, Yesus melakukan banyak mujizat yang menakjubkan. Hasilnya, banyak orang yang beriman kepadanya, salah satunya yaitu seorang Farisi bernama Nikodemus. Dia adalah anggota Sanhedrin, yaitu Mahkamah Agung Yahudi. Karena ingin tahu lebih banyak, suatu hari Nikodemus berniat untuk menemui Yesus. Dia mungkin takut nama baiknya rusak di mata para pemimpin Yahudi, sehingga dia menemui Yesus ketika hari sudah gelap.

Yohanes 3:2-7 (TB)
2 Ia datang pada waktu malam kepada Yesus dan berkata: “Rabi, kami tahu, bahwa Engkau datang sebagai guru yang diutus Allah; sebab tidak ada seorang pun yang dapat mengadakan tanda-tanda yang Engkau adakan itu, jika Allah tidak menyertainya.”
3 Yesus menjawab, kata-Nya: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan kembali, ia tidak dapat melihat Kerajaan Allah.”
4 Kata Nikodemus kepada-Nya: “Bagaimanakah mungkin seorang dilahirkan, kalau ia sudah tua? Dapatkah ia masuk kembali ke dalam rahim ibunya dan dilahirkan lagi?”
5 Jawab Yesus: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan dari air dan Roh, ia tidak dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah.
6 Apa yang dilahirkan dari daging, adalah daging, dan apa yang dilahirkan dari Roh, adalah roh.
7 Janganlah engkau heran, karena Aku berkata kepadamu: Kamu harus dilahirkan kembali.

Ketika melihat tanda-tanda mujizat Yesus, Nikodemus tidak dapat menyangkal kenyataan bahwa Yesus adalah utusan Allah, hingga akhirnya memperoleh pengertian baru dari Yesus yaitu peristiwa lahir baru bukanlah peristiwa duniawi. Terlepas dari seberapa baik moralitas kita, semua hal baik yang kita lakukan di dunia tidak cukup untuk membawa kita masuk ke dalam Kerajaan Allah. Di sisi lain, orang yang merasa hidupnya sudah hancur sekalipun, masih memiliki kesempatan untuk masuk ke dalam Kerajaan Allah.

Bagaimana cara mengetahui apakah kita sudah lahir baru?

1. Meninggalkan cara hidup yang lama

Matius 8:21-22 (TB)
21 Seorang lain, yaitu salah seorang murid-Nya, berkata kepada-Nya: “Tuhan, izinkanlah aku pergi dahulu menguburkan ayahku.”
22 Tetapi Yesus berkata kepadanya: “Ikutlah Aku dan biarlah orang-orang mati menguburkan orang-orang mati mereka.”

Matthew 8:21-22 (KJV)
21 And another of his disciples said unto him, Lord, suffer me first to go and bury my father.
22 But Jesus said unto him, Follow me; and let the dead bury their dead.

Ketika Tuhan Yesus memanggil seseorang untuk mengikut-Nya sebagai murid, orang itu meminta ijin untuk menguburkan ayahnya yang meninggal. Sebagai anak sulung, dia mau menunggu hingga ayahnya meninggal dan melakukan adat Yahudi untuk berada di dekat kuburan ayahnya hingga sampai 1 tahun sehingga dia dapat menerima warisan ayahnya.
Dengan kata lain, dia masih memiliki cara hidup yang lama, yaitu lebih mengutamakan tradisi dan kepentingan pribadinya di atas pelayanan untuk Tuhan.

Tapi Tuhan Yesus justru menjawab : “Biarlah orang-orang mati menguburkan orang-orang mati mereka”, yang dalam versi KJV : “Let the dead bury their dead”, artinya “Biarlah orang (yang secara rohani) mati menguburkan orang (yang secara jasmani) mati”. Tuhan Yesus mengatakan hal ini untuk supaya kita belajar bahwa orang yang belum lahir baru akan mementingkan tradisi dan ambisi pribadinya, sedangkan orang yang sudah lahir baru akan memprioritaskan Tuhan dan agenda-Nya. Dunia hanya bertahan sesaat dan akan segera berlalu, hanya Kerajaan Allah yang tetap nyata dan bertahan selamanya. Orang yang lahir baru tidak akan tinggal dalam kedagingannya, tetapi akan meninggalkan cara hidup yang lama dan mengikuti rencana Tuhan.

Matius 28:19-20 (TB)
19 Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus,
20 dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.”

Matthew 28:19-20 (KJV)
19 Go ye therefore, and teach all nations, baptizing them in the name of the Father, and of the Son, and of the Holy Ghost:
20 Teaching them to observe all things whatsoever I have commanded you: and, lo, I am with you alway, even unto the end of the world. Amen.

Melalui kedua ayat ini, Tuhan ingin kita menjangkau jiwa-jiwa dan menjadikan mereka murid-murid Kristus. “Ajarlah mereka” di dalam versi KJV dinyatakan “Teaching them to observe”, yang artinya Tuhan tidak ingin kita berhenti pada fase dibaptis saja, tapi juga ingin agar kita menghidupi Firman Tuhan dan melakukannya.

2. Dipimpin oleh Roh Allah

Roma 8:14 (TB)
Semua orang, yang dipimpin Roh Allah, adalah anak Allah.

Yeremia 17:9 (TB)
Betapa liciknya hati, lebih licik dari pada segala sesuatu, hatinya sudah membatu: siapakah yang dapat mengetahuinya?

Hanya anak-anak Allah saja yang akan diwarisi Kerajaan Allah. Dunia mengajarkan kita untuk mengikuti apa yang ada di dalam hati kita, tapi Tuhan meminta kita untuk memberi diri dipimpin oleh Roh Allah karena hati manusia lebih licik daripada segala sesuatu, bahkan lebih licik dari yang kita sendiri pernah tahu.

Matius 15:18-19 (TB)
18 Tetapi apa yang keluar dari mulut berasal dari hati dan itulah yang menajiskan orang.
19 Karena dari hati timbul segala pikiran jahat, pembunuhan, perzinahan, percabulan, pencurian, sumpah palsu dan hujat.

Hati kita seringkali seakan memimpin diri kita ke arah yang baik dan menyenangkan. Tapi jika kita terus-menerus mengikuti kata hati, suatu saat kita akan kecewa dan jatuh, karena kita tidak didesign untuk dipimpin oleh hati kita, tapi kita yang harus menjaga dan memimpin hati kita bersama dengan Roh Kudus. Orang yang telah lahir baru tidak mengikuti kata hatinya terus-menerus, karena dia memiliki kepekaan untuk dipimpin oleh Firman Tuhan dan Roh Kudus. Jangan menggunakan hati kita untuk mengambil keputusan, tapi gunakan firman Tuhan dan tuntunan Roh Kudus untuk menjalani kehidupan.

Bagaimana kita bisa 100% menyerahkan hidup kita dipimpin Tuhan? Bagaimana jika kita masih memiliki ketakutan bahwa Tuhan akan hancurkan hidup kita kalau kita berserah?

Yohanes 10:11 (TB)
Akulah gembala yang baik. Gembala yang baik memberikan nyawanya bagi domba-dombanya;

Jika nyawanya saja diberikan, maka apa lagi yang tidak akan diberikan oleh-Nya? Keinginan-Nya untuk melihat kita bahagia, jauh lebih besar dari keinginan bapa kita yang ada di dunia, karena Dia gembala yang baik yang takkan membiarkan kita kekurangan-Nya.
Tuhan adalah Tuhan yang penuh kuasa, terlebih dari itu Tuhan sangat mengasihi kita. Dialah satu-satunya Pribadi yang layak untuk memimpin hidup kita, dan Dia akan memberikan kebahagiaan dan kepuasan tertinggi dalam kehidupan kita.

3. Melakukan perbuatan iman

Jika ada perang dunia di dalam kehidupan kita dan kita meyakini bahwa Amerika yang akan menang, maka kita akan menyimpan USD sebanyak-banyaknya. Begitu juga halnya jika kita benar-benar percaya bahwa dunia akan lenyap dan akan tiba saatnya Tuhan memerintah dunia ini sepenuhnya, maka kita akan memprioritaskan Tuhan lebih dari perkara duniawi dan mengusahakan banyak perbuatan iman selama hidup di dunia.

Yakobus 2:26 (TB)
Sebab seperti tubuh tanpa roh adalah mati, demikian jugalah iman tanpa perbuatan-perbuatan adalah mati.

Jangan menggunakan ayat ini untuk menghakimi iman orang lain, karena jika seseorang memiliki iman yang sejati, maka suatu saat iman tersebut akan menghasilkan buahnya.

Yohanes 19:38-39 (TB)
38 Sesudah itu Yusuf dari Arimatea — ia murid Yesus, tetapi sembunyi-sembunyi karena takut kepada orang-orang Yahudi — meminta kepada Pilatus, supaya ia diperbolehkan menurunkan mayat Yesus. Dan Pilatus meluluskan permintaannya itu. Lalu datanglah ia dan menurunkan mayat itu.
39 Juga Nikodemus datang ke situ. Dialah yang mula-mula datang waktu malam kepada Yesus. Ia membawa campuran minyak mur dengan minyak gaharu, kira-kira lima puluh kati beratnya.

Nikodemus datang kepada Tuhan Yesus secara sembunyi-sembunyi. Dia memiliki iman yang awal mulanya kecil, tetapi justru pada akhir ceritanya dia melakukan perbuatan iman. Nilai minyak untuk penguburan Tuhan Yesus sangatlah mahal (estimated IDR 2-4 Billion), tapi Nikodemus memberikannya tanpa menyayangkan. Orang yang lahir baru suatu saat akan menunjukkan perbuatan iman melalui pengorbanannya.

Suatu saat ketika kita pulang ke rumah Bapa, pasti akan tercatat perbuatan iman sekecil apapun. Keep our Christianity seriously, Tuhan pasti menghargai niat kita sekecil apapun itu. Ketika kita mengutamakan Tuhan lebih dari segalanya, kita akan melakukan perbuatan iman dan Tuhan akan memproses hidup kita.

1 Petrus 1:6-7 (TB)
6 Bergembiralah akan hal itu, sekalipun sekarang ini kamu seketika harus berdukacita oleh berbagai-bagai pencobaan.
7 Maksud semuanya itu ialah untuk membuktikan kemurnian imanmu — yang jauh lebih tinggi nilainya dari pada emas yang fana, yang diuji kemurniannya dengan api — sehingga kamu memperoleh puji-pujian dan kemuliaan dan kehormatan pada hari Yesus Kristus menyatakan diri-Nya.

Tuhan mengijinkan kita menghadapi berbagai-bagai pencobaan di dalam hidup untuk membuktikan apakah iman kita murni. Jika iman kita tahan uji, kita akan menjadi orang yang paling berbahagia karena Tuhan sendiri yang akan memberikan penghormatan untuk kita.

Makna percaya yang terkandung di dalam “lahir baru” adalah totally surrender, yaitu sikap percaya yang :
1. Menyerahkan hidup sepenuhnya ke tangan Tuhan.
2. Menerima apapun rancangan Tuhan di dalam hidup.
3. Tidak hanya melalui perkataan semata, tapi juga melalui tindakan nyata di dalam pengalaman hidup.
4. Terus memperbaharui tindakan dan pemikiran dari waktu ke waktu dengan kuasa dari Roh

Blessing in Disguise

Blessing in Disguise
By : Felicia Harli
Connect Group P-230
Tuesday, 14 May 2019

Yakobus 1:2 (TB)
Saudara-saudaraku, anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan,

Hidup terdiri dari rangkaian permasalahan. Mendapati permasalahan baru sebelum terselesaikannya permasalahan yang lama, merupakan hal yang wajar terjadi di dalam hidup, tapi yang terpenting adalah sikap hati kita saat menghadapinya. Tanpa kita sadari, sesungguhnya ada berkat-berkat yang tersembunyi di balik permasalahan yang kita alami. Hanya karena kita belum melihatnya saat ini, bukan berarti berkat itu tidak ada.

Mengapa Tuhan mengijinkan adanya permasalahan dalam hidup kita?

1. Masalah membuat kita menjadi tekun
2. Masalah membuat karakter kita semakin sempurna

Yakobus 1:3-4 (TB)
3 sebab kamu tahu, bahwa ujian terhadap imanmu itu menghasilkan ketekunan.
4 Dan biarkanlah ketekunan itu memperoleh buah yang matang, supaya kamu menjadi sempurna dan utuh dan tak kekurangan suatu apa pun.

Roma 5:3-5 (TB)
3 Dan bukan hanya itu saja. Kita malah bermegah juga dalam kesengsaraan kita, karena kita tahu, bahwa kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan,
4 dan ketekunan menimbulkan tahan uji dan tahan uji menimbulkan pengharapan.
5 Dan pengharapan tidak mengecewakan, karena kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita.

Ketekunan merupakan kekuatan untuk menghadapi tekanan dalam hidup. Tuhan mengijinkan adanya permasalahan bukan karena tidak mengasihi kita, tapi justru agar kita menemukan kebaikan Tuhan di dalamnya. Jika kita tidak menghadapi permasalahan sama sekali dalam hidup, mungkin kita akan menjadi pribadi yang tidak menghargai berkat dan merasa tidak perlu Tuhan sehingga semakin hari semakin jauh dari Tuhan.

Diamonds don’t break under pressure, they shine. They are formed under pressure, but never forget that they are not formed overnight.

Ketika menghadapi permasalahan, tetaplah berfokus pada Tuhan dan ingatlah kenyataan bahwa Tuhan selalu mengasihi kita terlepas dari apapun kenyataan yang ada di sekitar kita. Jangan terus-menerus memusatkan seluruh pikiran hanya pada permasalahan kita, tapi ratherly berusahalah untuk menyenangkan Tuhan dalam setiap kesempatan. Ketika kita memilih untuk menyenangkan hati Tuhan, Tuhan akan memperlengkapi kita agar mampu menghadapi permasalahan dengan baik seturut dengan kehendak Tuhan.

1 Yohanes 3:1 (TB)
Lihatlah, betapa besarnya kasih yang dikaruniakan Bapa kepada kita, sehingga kita disebut anak-anak Allah, dan memang kita adalah anak-anak Allah. Karena itu dunia tidak mengenal kita, sebab dunia tidak mengenal Dia.

Mintalah pengertian dari Tuhan sehingga kita dimampukan untuk melihat berkat Tuhan di balik permasalahan yang kita hadapi, karena pasti selalu ada alasan untuk bersyukur setiap hari. Tuhan selalu eksis dalam setiap musim kehidupan kita, tapi jangan sekalipun menyia-nyiakan atau menganggap remeh setiap kasih yang Tuhan berikan secara cuma-cuma kepada kita. Sediakan waktu yang terbaik untuk Tuhan setiap hari bukan untuk memperoleh berkat atau mujizat semata, tapi justru untuk mengucap syukur karena kita boleh ada sebagaimana kita ada saat ini dan berterimakasih atas setiap hal baik yang telah Tuhan sediakan di dalam hidup kita.

Ketika berada dalam kondisi terbawah di dalam hidup, kita memiliki pilihan : menjadi korban yang tetap diam dan membiarkan orang lain dengan sendirinya menebak-nebak apa yang terjadi di dalam hidup kita, atau menjadi alat Tuhan yang mengijinkan orang lain mengetahui apa yang sedang terjadi di dalam hidup kita dan membuat mereka mampu melihat mujizat Tuhan nyata di dalam hidup kita.

Kita tidak akan mampu menjadi berkat bagi orang lain jika belum memiliki hubungan yang dekat dengan Tuhan, karena dengan sendirinya orang yang dekat dengan Tuhan akan menjadi berkat bagi orang-orang di sekelilingnya.

The Chief Cornerstone

The Chief Cornerstone
By : James Andi Wijaya
Connect Group P-230
Tuesday, 02 Apr 2019

“Cornerstone” artinya batu penjuru, fondasi, dasar, landasan. Batu penjuru atau fondasi merupakan dasar yang teguh dari sebuah bangunan. Ketahanan suatu bangunan tergantung pada fondasi yang dibangun. Fondasi berfungsi untuk meneruskan beban dari struktur atas ke bagian tanah dasar. Jika kita melakukan refleksi sejenak, apa yang menjadi fondasi hidup kita?

Efesus 2:19-20 (TB)
19 Demikianlah kamu bukan lagi orang asing dan pendatang, melainkan kawan sewarga dari orang-orang kudus dan anggota-anggota keluarga Allah,
20 yang dibangun di atas dasar para rasul dan para nabi, dengan Kristus Yesus sebagai batu penjuru.

Yesaya 28:16 (TB)
sebab itu beginilah firman Tuhan ALLAH: “Sesungguhnya, Aku meletakkan sebagai dasar di Sion sebuah batu, batu yang teruji, sebuah batu penjuru yang mahal, suatu dasar yang teguh: Siapa yang percaya, tidak akan gelisah!

Setiap manusia juga mendirikan hidupnya di atas sebuah fondasi. Jika fondasi itu rapuh, kita akan mudah goyah saat ada badai. Untuk menjadi pribadi yang durable, kita harus memiliki fondasi yang kuat di dalam hidup kita.

Ibrani 13:5 (TB)
Janganlah kamu menjadi hamba uang dan cukupkanlah dirimu dengan apa yang ada padamu. Karena Allah telah berfirman: “Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau.”

Jika kita menempatkan kekayaan sebagai fondasi hidup, kita akan menjadi hamba uang yang terus-menerus menjadikan uang sebagai tujuan utama hidup. Lalu ketika tidak lagi mampu mendapatkan uang sebanyak yang kita harapkan, kita akan merasa tidak aman dengan hidup kita.

Jika kita menempatkan performance sebagai fondasi hidup, kita akan terus berusaha menunjukkan kepada dunia bahwa performance kita lebih baik daripada orang lain. Lalu ketika mendapati orang lain memiliki performance yang lebih baik daripada kita padahal kita sudah berusaha semaksimal mungkin, kita akan merasa gagal dalam menjalani hidup.

Jika kita menempatkan penilaian orang lain sebagai fondasi hidup, kita akan mengusahakan berbagai macam cara untuk menyenangkan orang-orang yang ada di sekeliling kita sehingga terlihat baik di mata mereka. Lalu kita akan mengalami kehancuran ketika mendapati masih ada orang yang memiliki penilaian buruk tentang kita padahal tidak ada niat buruk sedikitpun di dalam hati kita.

Lukas 6:47-49 (TB)
47 Setiap orang yang datang kepada-Ku dan mendengarkan perkataan-Ku serta melakukannya — Aku akan menyatakan kepadamu dengan siapa ia dapat disamakan —,
48 ia sama dengan seorang yang mendirikan rumah: Orang itu menggali dalam-dalam dan meletakkan dasarnya di atas batu. Ketika datang air bah dan banjir melanda rumah itu, rumah itu tidak dapat digoyahkan, karena rumah itu kokoh dibangun.
49 Akan tetapi barangsiapa mendengar perkataan-Ku, tetapi tidak melakukannya, ia sama dengan seorang yang mendirikan rumah di atas tanah tanpa dasar. Ketika banjir melandanya, rumah itu segera rubuh dan hebatlah kerusakannya.”

Jika kita menempatkan Tuhan sebagai fondasi hidup, maka :
1. Kita tidak akan merasa tidak aman ketika tidak mampu mendapatkan uang sebanyak yang kita harapkan, karena kita percaya bahwa Tuhan sanggup mencukupkan kita dalam segala sesuatu.
2. Kita tidak akan merasa gagal dalam menjalani hidup ketika mendapati ada orang lain yang perform lebih baik daripada kita, karena kita senantiasa menyadari bahwa Tuhan mengasihi diri kita bukan karena kita mampu perform lebih baik daripada orang lain, tapi mengasihi diri kita apa adanya.
3. Kita tidak akan mengalami kehancuran ketika mendapati masih ada orang lain yang memiliki penilaian buruk tentang kita, karena kita mengutamakan apa yang dikehendaki Tuhan dan hidup untuk menyenangkan Tuhan, bukan manusia.

Tuhan Yesus bernilai lebih dari sekedar fondasi bangunan, karena Tuhan Yesus harus menjadi fondasi utama di dalam hidup kita. Ketika kita menempatkan Tuhan Yesus sebagai fondasi utama, sukacita kita tidak akan berkurang karena hal-hal di sekitar yang tidak sesuai dengan ekspektasi.

Efesus 2:8-9 (TB)
8 Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah,
9 itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri.

Matius 22:21 (TB)
Jawab mereka: “Gambar dan tulisan Kaisar.” Lalu kata Yesus kepada mereka: “Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah.”

Gambar siapa yang ada di dalam hidup kita? Jika gambar di dalam hidup kita adalah Tuhan, berikan apa yang harus kita berikan kepada Tuhan. Jika kita membangun fondasi hidup kita dengan sia-sia, maka sia-sialah kasih karunia Tuhan.

Jika kita meletakkan sukacita kita pada hal-hal duniawi yang di luar Tuhan, suatu hari semua itu akan merusak hubungan kita dengan Tuhan dan sesama. Menjadikan Tuhan sebagai fondasi utama dalam hidup tidak akan pernah menjadi pilihan yang salah. Badai, air bah, dan banjir pasti datang sewaktu-waktu, tapi hidup kita tidak akan goyah kalau memiliki fondasi yang kuat.

Matius 16:18 (TB)
Dan Aku pun berkata kepadamu: Engkau adalah Petrus (Petros, Batu Kecil) dan di atas batu karang (Petra, Batu yang besar / Tuhan Yesus) ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya.

Batu penjuru adalah Tuhan Yesus sendiri. Kalau kita cinta Tuhan, melakukan firman Tuhan bukanlah sesuatu yang sulit. Tapi di saat yang sama, melakukan firman Tuhan bukanlah sesuatu yang mudah, karena membutuhkan komitmen untuk membangun hubungan dengan Tuhan.

Disiplin untuk membangun fondasi hidup :
1. Pray
1 Tesalonika 5:17-18 (TB)
17 Tetaplah berdoa.
18 Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu.

Tuhan Yesus menghendaki agar kita berdoa. Berdoalah tidak hanya ketika berada dalam situasi sulit, tapi berdoalah setiap hari. Berdoalah tidak hanya untuk hidup kita, tapi juga untuk hal-hal di luar kita. Doakan negara, minta Tuhan untuk intervensi setiap ketentuan yang ditetapkan oleh regulator. Doakan orang lain di sekitar kita agar melalui kehidupan mereka nama Tuhan dapat dipermuliakan.

2. Word
Mazmur 119:105 (TB)
Firman-Mu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku.

Baca Alkitab setiap hari, karena Roh Kudus akan berbicara untuk mengingatkan kita melalui firman Tuhan. Dengan begitu kita dapat mengambil keputusan dengan tepat seturut dengan kehendak Tuhan ketika menghadapi masalah.

3. Worship
Yohanes 4:23-24 (TB)
23 Tetapi saatnya akan datang dan sudah tiba sekarang, bahwa penyembah-penyembah benar akan menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran; sebab Bapa menghendaki penyembah-penyembah demikian.
24 Allah itu Roh dan barangsiapa menyembah Dia, harus menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran.”

Lakukan penyembahan setiap hari untuk menyenangkan Tuhan. Ketika melakukan penyembahan, kita membangun hubungan yang lebih intim dengan Tuhan.

4. Fellowship
Yohanes 15:12 (TB)
Inilah perintah-Ku, yaitu supaya kamu saling mengasihi, seperti Aku telah mengasihi kamu.

Lukas 22:32 (TB)
tetapi Aku telah berdoa untuk engkau, supaya imanmu jangan gugur. Dan engkau, jikalau engkau sudah insaf, kuatkanlah saudara-saudaramu.”

Tuhan ingin kita saling mengasihi dan saling tolong-menolong terhadap sesama. Kita dapat memperoleh konfirmasi atas pergumulan melalui CG, karena CG adalah perpanjangan tangan gereja untuk meraih jemaat.

5. Fasting
Matius 6:16 (TB)
“Dan apabila kamu berpuasa (bahasa inggris: “When you fast”, bukan “if you fast”; yang artinya Tuhan expect kita untuk puasa), janganlah muram mukamu seperti orang munafik. Mereka mengubah air mukanya, supaya orang melihat bahwa mereka sedang berpuasa. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya.

Kosongkan waktu dengan meninggalkan sesaat apa yang menjadi kesukaan kita, untuk mencari tahu apa yang menjadi kerinduan dan kehendak Tuhan dengan berpuasa. Puasa adalah deklarasi pengakuan atas kepercayaan kita kepada Tuhan.

1 Petrus 2:6 (TB)
Sebab ada tertulis dalam Kitab Suci: “Sesungguhnya, Aku meletakkan di Sion sebuah batu yang terpilih, sebuah batu penjuru yang mahal, dan siapa yang percaya kepada-Nya, tidak akan dipermalukan.”

One Direction

One Direction
By : Michelle Widjaja
Connect Group P-230
Tuesday, 26 Mar 2019

Direction (n)
the position towards which someone or something moves or faces.

Direction berbicara tentang posisi dan kontrol. One direction artinya satu posisi dan satu kontrol. Dengan memiliki direction yang tepat di dalam hidup, kita mampu menentukan arah tujuan kita dan mampu mengambil keputusan yang terbaik.

1. Masa lalu kita membentuk diri kita yang sekarang.

Bacaan : 1 Sam 16:1-13
Daud diurapi menjadi raja

1 Samuel 16:7 (TB)
Tetapi berfirmanlah TUHAN kepada Samuel: “Janganlah pandang parasnya atau perawakan yang tinggi, sebab Aku telah menolaknya. Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi TUHAN melihat hati.”

1 Samuel 17:28-30 (TB)
28 Ketika Eliab, kakaknya yang tertua, mendengar perkataan Daud kepada orang-orang itu, bangkitlah amarah Eliab kepada Daud sambil berkata: “Mengapa engkau datang? Dan pada siapakah kautinggalkan kambing domba yang dua tiga ekor itu di padang gurun? Aku kenal sifat pemberanimu dan kejahatan hatimu: engkau datang ke mari dengan maksud melihat pertempuran.”
29 Tetapi jawab Daud: “Apa yang telah kuperbuat? Hanya bertanya saja!”
30 Lalu berpalinglah ia dari padanya kepada orang lain dan menanyakan yang sama. Dan rakyat memberi jawab kepadanya seperti tadi.

Daud pernah mengalami penolakan di dalam hidupnya, yaitu ketika dia ditugaskan untuk menjaga kambing domba seorang diri tanpa ketujuh saudaranya. Bahkan tidak hanya itu, dia juga dikucilkan oleh orang-orang di sekelilingnya. Kebutuhan mendasar setiap orang adalah penerimaan atas dirinya. Ketika seseorang mengalami penolakan, dia membutuhkan pribadi yang menerima dirinya apa adanya.

1 Samuel 17:37 (TB)
Pula kata Daud: “TUHAN yang telah melepaskan aku dari cakar singa dan dari cakar beruang, Dia juga akan melepaskan aku dari tangan orang Filistin itu.” Kata Saul kepada Daud: “Pergilah! TUHAN menyertai engkau.”

Setiap orang mempunyai latar belakang yang berbeda-beda, tapi Tuhan tidak menghakimi kita berdasarkan latar belakang tersebut, karena Tuhan hanya ingin membentuk hati kita. Kita tidak dapat membandingkan latar belakang hidup kita dengan hidup orang lain, karena everything happens for a reason. Melalui latar belakang yang berbeda-beda, Tuhan akan memproses kita dengan cara yang berbeda-beda juga. Pada akhirnya kita akan memahami bahwa seburuk apapun kejadian yang kita alami di masa lalu, bagaimanapun juga itu tetaplah bagian dari diri kita dan tidak akan ada pribadi kita saat ini tanpa adanya masa lalu yang menjadi pembelajaran yang sangat berharga di dalam hidup kita. Pakailah setiap pengalaman di masa lalu sebagai pengingat bahwa kalau kita ada sebagaimana kita ada saat ini, semuanya karena Tuhan.

100 kg jerami dan 100 kg emas sekilas tampak sama dalam hal berat, tapi keduanya memiliki nilai yang berbeda. Mereka terbentuk sebagaimana mereka ada karena diproses dengan cara yang berbeda dan lama waktu yang berbeda. Ketika merasa rumput tetangga tampak lebih hijau, sadarilah bahwa setiap orang harus mengalami proses yang berbeda-beda. Instead of membanding-bandingkan hidup kita dengan hidup orang lain, kelola dengan baik apa yang ada pada hidup kita saat ini. Sukacita tidak akan diperoleh melalui membandingkan hidup, tapi melalui rasa syukur yang cukup. Ketika kita tidak memperoleh penerimaan dari orang lain, ucapkan syukur karena Tuhan menjadi pribadi yang menerima diri kita apa adanya.

2. Latar belakang kita tidak menentukan langkah kita saat ini.

Deuteronomy 30:6 (NLT)
“The Lord your God will change your heart and the hearts of all your descendants, so that you will love Him with all your heart and soul and so you may live!

Walaupun kita memiliki latar belakang, hal itu tidak menentukan bagaimana kita harus bertindak di dalam hidup kita saat ini, misalnya saat ini kita menjadi pribadi yang tidak pernah percaya pada orang lain karena pernah dikhianati sahabat atau keluarga di masa lalu. Kita harus siap menerima hati yang baru dan berubah oleh pembaharuan budi kita, sehingga kita mampu mengasihi Tuhan Allah dengan segenap hati dan jiwa.

3. Langkah kita ditentukan oleh respon hati yang benar.

1 Samuel 18:9 (TB)
Sejak hari itu maka Saul selalu mendengki Daud.

1 Samuel 24:18-19 (TB)
(24-19) Telah kautunjukkan pada hari ini, betapa engkau telah melakukan yang baik kepadaku: walaupun TUHAN telah menyerahkan aku ke dalam tanganmu, engkau tidak membunuh aku.
(24-20) Apabila seseorang mendapat musuhnya, masakan dilepaskannya dia berjalan dengan selamat? TUHAN kiranya membalaskan kepadamu kebaikan ganti apa yang kaulakukan kepadaku pada hari ini.

Melalui banyaknya keberhasilan Daud dalam berperang, Saul menjadi pribadi yang dengki pada Daud lalu mengusahakan berbagai macam cara untuk membunuhnya, hingga suatu hari tiba saatnya Daud memiliki kesempatan di depan matanya untuk membunuh Saul. Walaupun Daud tahu bahwa Saul sangat membencinya dan ingin membunuhnya, Daud tetap memilih untuk tidak membunuh Saul sekalipun kesempatan itu ada di hadapannya.

Roma 12:2 (TB)
Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.

Matius 6:33 (TB)
Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.

Yakobus 2:17 (TB)
Demikian juga halnya dengan iman: Jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakekatnya adalah mati.

Hati yang benar akan membentuk pikiran yang benar. Pikiran menjadi kata-kata, kata-kata menjadi tindakan, tindakan menjadi kebiasaan, kebiasaan menjadi karakter. Di dalam hidup kita, ada saatnya kita dapat melakukan pembuktian kepada dunia dan membalas dendam atas perlakuan buruk yang kita terima selama ini. Tapi ketika hati melekat kepada Tuhan, kita tidak lagi terlena dengan kesempatan itu karena kita tahu bahwa hal itu tidak berkenan di hadapan Tuhan.

Ulangan 6:5 (TB)
Kasihilah TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu.

Matius 22:36-37 (TB)
36 “Guru, hukum manakah yang terutama dalam hukum Taurat?”
37 Jawab Yesus kepadanya: “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu.

Mengapa hukum yang terutama dalam hukum Taurat adalah mengasihi Tuhan Allah dengan segenap hati, jiwa, kekuatan, dan akal budi?

Karena Tuhan kita BAIK.

B : Benar
Yohanes 14:6 (TB)
Kata Yesus kepadanya: “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.

A : Adil
1 Yohanes 1:9 (TB)
Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan.

I : Ilahi
Yohanes 9:2-3 (TB)
2 Murid-murid-Nya bertanya kepada-Nya: “Rabi, siapakah yang berbuat dosa, orang ini sendiri atau orang tuanya, sehingga ia dilahirkan buta?”
3 Jawab Yesus: “Bukan dia dan bukan juga orang tuanya, tetapi karena pekerjaan-pekerjaan Allah harus dinyatakan di dalam dia.

K : Kasih
1 Yohanes 4:8 (TB)
Barangsiapa tidak mengasihi, ia tidak mengenal Allah, sebab Allah adalah kasih.

1 Yohanes 4:16 (TB)
Kita telah mengenal dan telah percaya akan kasih Allah kepada kita. Allah adalah kasih, dan barangsiapa tetap berada di dalam kasih, ia tetap berada di dalam Allah dan Allah di dalam dia.

4. Masa depanku dipegang oleh Tuhan.

Miliki visi dan misi hidup.
If you have the right vision, then you have the right mission.

Make Jesus the center of your life. Apapun yang kita lakukan, apapun status dan fungsi kita, tetap jadikan Tuhan sebagai pusat kehidupan kita. Ketika kita menjadikan Tuhan sebagai pusat kehidupan kita, masalah memang akan tetap ada, tapi paradigma kita dalam memandang masalah tersebut akan berbeda, karena kita percaya bahwa Tuhan memegang kendali hidup kita dan Tuhan lebih tahu yang terbaik di dalam hidup kita. Dengan menyadari bahwa Tuhan tahu setiap hal yang kecil yang kita alami, kita akan merasa aman dan dikasihi setiap waktu, sehingga kita dimampukan untuk menghadapi setiap masalah dengan sudut pandang yang baru.

Mazmur 1:3 (TB)
Ia seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya; apa saja yang diperbuatnya berhasil.

Yeremia 29:11 (TB)
Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan.

Kenapa kita harus memegang janji Tuhan?
Karena tidak ada satupun janji Tuhan yang gagal. Sekalipun itu terlihat gagal dalam hidup kita, kita tidak ragu karena kita memiliki iman. Iman terbentuk melalui hubungan yang kuat dengan Tuhan. Hubungan dengan Tuhan dapat terjalin dengan kuat kalau kita berusaha membangunnya setiap waktu.

Seorang ayah pasti sedih kalau anaknya datang hanya ketika ingin hadiah, begitu juga dengan Tuhan. Jangan datang kepada Tuhan hanya ketika kita mempunyai harapan tertentu dalam hidup, tapi gunakan waktu dengan baik untuk membangun hubungan dengan Tuhan dalam setiap musim hidup kita. Pertumbuhan tidak akan diperoleh secara instant, karena harus diusahakan. Datang ke CG tidak otomatis menghasilkan pertumbuhan. Oleh karena itu, berikan waktu yang terbaik untuk membangun hubungan pribadi dengan Tuhan agar terus bertumbuh setiap hari.

1 Korintus 15:33 (TB)
Janganlah kamu sesat: Pergaulan yang buruk merusakkan kebiasaan yang baik.

You are the average of the 5 people you spend the most time with. Pilihlah komunitas dengan benar karena gambar diri kita akan terbentuk melalui pergaulan kita bersama orang-orang di sekeliling yang paling sering menghabiskan waktu bersama kita.

2 Timotius 4:7-8 (TB)
7 Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman.
8 Sekarang telah tersedia bagiku mahkota kebenaran yang akan dikaruniakan kepadaku oleh Tuhan, Hakim yang adil, pada hari-Nya; tetapi bukan hanya kepadaku, melainkan juga kepada semua orang yang merindukan kedatangan-Nya.

Paulus adalah seseorang yang benar-benar mendedikasikan hidupnya untuk Tuhan. Di akhir hidupnya dia menyatakan bahwa dia telah memelihara iman. Dalam masa kesesakan, ingatlah betapa baiknya Tuhan menyertai perjalanan kita hingga saat ini. Kalau Tuhan pernah menyertai kita untuk menghadapi situasi sulit di masa lalu, maka Tuhan juga pasti akan menyertai kita untuk menghadapi situasi sulit di masa saat ini dan masa yang akan datang. Jangan menjadikan masa lalu sebagai kambing hitam, tapi jadikan itu sebagai cerita supaya nama Tuhan semakin dipermuliakan oleh karenanya.

When you focus on your problem, you will have more problems.
When you focus on possibilities, you have more opportunities to overcome them.
When you focus on God, and surrender your life to Him, you will have the solution.

Speak Up

Speak Up
By : Alvin Kristanto
Connect Group P-230
Tuesday, 19 Mar 2019

Speak up : berseru, bernyanyi, berdoa, dan baca Alkitab.
1. To speak louder
Berseru kepada Tuhan, tidak melulu tentang permasalahan kita, tapi juga tentang kebahagiaan kita.
2. To express our feeling
Mengekspresikan perasaan kita kepada Tuhan dengan bernyanyi memuji Tuhan melalui lagu pujian dan penyembahan.
3. Talk to higher up
Berbicara kepada Tuhan melalui devotion : berdoa dan membaca Alkitab.

Si Bungsu dan Si Sulung
(Perumpamaan Tentang Anak yang Hilang)

Lukas 15:25-28 (TB)
25 Tetapi anaknya yang sulung berada di ladang dan ketika ia pulang dan dekat ke rumah, ia mendengar bunyi seruling dan nyanyian tari-tarian.
26 Lalu ia memanggil salah seorang hamba dan bertanya kepadanya apa arti semuanya itu.
27 Jawab hamba itu: Adikmu telah kembali dan ayahmu telah menyembelih anak lembu tambun, karena ia mendapatnya kembali dengan sehat.
28 Maka marahlah anak sulung itu dan ia tidak mau masuk. Lalu ayahnya keluar dan berbicara dengan dia.

Si Sulung melakukan kesalahan ketika Si Bungsu pulang. Instead of bertanya kepada ayahnya sendiri, dia justru bertanya kepada hambanya. Ada kemungkinan hamba tersebut memberikan informasi yang mengarahkan Si Sulung kepada pemikiran yang negatif sehingga Si Sulung menjadi cemburu. Si Sulung marah kepada ayahnya setelah ia mendengarkan jawaban hambanya. Dia marah karena tidak sepenuhnya percaya kepada ayahnya. Ketika kita tidak fully trust kepada seseorang, kita akan menjadi mudah dipengaruhi oleh orang lain dan diarahkan ke pemikiran yang negatif.

Amsal 3:5 (TB)
Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri.

Tanpa kita sadari kita juga sering melakukan hal ini. Sebagai anak Tuhan, kita mempunyai direct access untuk berkomunikasi dengan Bapa di surga, tapi justru sering kali kita lebih memilih untuk bercerita kepada manusia daripada bercerita kepada Bapa di surga. Walaupun memang manusia adalah makhluk sosial yang pada point tertentu pasti menceritakan permasalahan beratnya kepada sesamanya yang dipercaya agar relieve from stress, tapi jangan pernah mengabaikan kenyataan bahwa sebagai anak Tuhan, kita memiliki hak untuk menceritakan apapun pergumulan kita kepada Bapa di surga. Jangan mengambil kesimpulan dan keputusan sendiri, tapi libatkan Tuhan dalam setiap musim kehidupan sampai ke partikel yang terkecil.

Ketika dekat dengan Tuhan, secara tidak langsung hati kita pasti berubah. Semakin dekat dengan Tuhan, kita akan semakin mengenal pribadi-Nya. Ketika mengenal pribadi Tuhan dengan baik, kita tidak akan berprasangka buruk terhadap Tuhan. Terlepas dari apapun yang dikatakan oleh dunia, kita tidak akan dibutakan oleh semuanya itu karena kita meyakini bahwa Tuhan telah cukupkan kita dan memberikan yang terbaik bagi kita.

Lukas 15:29 (TB)
Tetapi ia menjawab ayahnya, katanya: Telah bertahun-tahun aku melayani bapa dan belum pernah aku melanggar perintah bapa, tetapi kepadaku belum pernah bapa memberikan seekor anak kambing untuk bersukacita dengan sahabat-sahabatku.

Si Sulung tidak melakukan pelayanannya kepada ayahnya dengan sepenuh hati, karena di dalam hatinya masih mengharapkan imbalan melalui pelayanannya. Jangan memiliki motivasi yang salah ketika melakukan pelayanan, karena itu akan membuat pelayanan kita akan menjadi rutinitas biasa yang berakhir dengan sia-sia.

Mungkin juga kita sedang dalam posisi si anak sulung yang merasa diri benar, merasa diri dekat dengan Allah dan berhak mendapatkan keselamatan karena kesalehannya. Ini adalah bentuk kesombongan rohani yang menganggap bahwa orang yang berdosa harus dihukum dan tidak layak untuk diselamatkan. Anak sulung itu melambangkan orang yang kelihatannya secara lahiriah menaati perintah Allah, tetapi hati mereka terpisah dari Dia dan tujuan-Nya bagi kerajaan itu.

Matius 6:6 (TB)
Tetapi jika engkau berdoa, masuklah ke dalam kamarmu, tutuplah pintu dan berdoalah kepada Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu.

Berdoa dan membaca Alkitab merupakan komunikasi dua arah antara kita dan Tuhan. Semua orang pasti bisa melakukannya, tergantung mau atau tidak, karena Tuhan tidak pernah memberikan syarat yang sulit dipenuhi, seperti harus suci, harus puasa terlebih dahulu, tidak boleh berdosa, atau harus menggunakan kata-kata yang indah dalam berdoa, tapi cukup datang kepada Tuhan apa adanya dengan masuk ke dalam kamar dan berdoa di tempat yang tersembunyi.

Yohanes 1:1, 4 (TB)
1 Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah.
4 Dalam Dia ada hidup dan hidup itu adalah terang manusia.

Ketika kita menyadari bahwa Tuhan itu sangat penting di dalam hidup, kita pasti mempunyai rencana untuk menyediakan waktu bagi Tuhan. Alkitab bukan benda mati, tapi mengandung firman yang hidup. Berdoalah meminta tuntunan Roh Kudus sebelum membacanya, tapi sekalipun kita tidak mendapatkan pengertian ketika membacanya, tetaplah membacanya terus-menerus karena Tuhan pasti akan menyingkapkan pengertian kepada kita di kemudian hari. Jangan pernah menganggap devotion sebagai hal yang remeh karena suatu ketika Tuhan pasti akan menunjukkan kepada kita sejauh mana perbedaan antara orang yang mengandalkan Tuhan dan yang tidak. Tuhan akan menyadarkan kita bahwa dengan mengandalkan Tuhan kita mampu menghadapi banyak hal yang sebelumnya tidak pernah kita duga bahwa kita mampu.